Alessandro Del Piero: Kekasih Si Nyonya Tua yang Tersisih

Tuesday, December 4th, 2018 - Tifosi

Selama nyaris 20 tahun, Alessandro Del Piero telah mempertahankan kesusilaan, estetika seniman, dan kesetiaan sang pencinta yang gila pada sebuah tim sepak bola yang kerap mengalami pasang surut kehidupan dan terkadang kesusahan untuk memelihara kebajikan.

Del Piero adalah salah satu nama yang selalu lekat dengan Juventus. Dia seringkali mampu menampilkan tipu muslihat ajaib untuk mencetak gol yang luar biasa indah bagi La Vecchia Signora.

Del Piero tetap setia kepada Juventus dengan menjadi teladan saat hampir semua pemain pergi berlari untuk menyelamatkan diri usai bahtera Juventus dilucuti dan dikaramkan ke Serie B dalam hierarki sepak bola Italia pada tahun 2006.

Saat itu, kepolisian Italia berhasil mengungkap skandal Calciopoli yang menjijikkan bahwa direksi klub Juventus (dan beberapa tim sepak bola besar lainnya di Italia) telah memanipulasi penunjukan wasit yang akan bertugas memimpin jalannya pertandingan di Serie A Italia sepanjang musim 2004/05 silam.

Tetapi pada tahun 2011 kemarin, saat Del Piero meminta lebih banyak waktu untuk menikmati era baru Juventus yang diselimuti atmosfer mengasyikkan dalam lingkungan yang telah dipugar, lebih mewah dan sakral, direksi klub malah mengultimatum bahwa kebersamaan Del Piero dan Juventus kudu berakhir di pengujung musim 2011/2012.
Roman menggairahkan itu harus selesai, bahwa sepasang kekasih yang saling mencinta itu harus melangkah sendiri-sendiri.

Del Piero sudah bukan remaja picisan lagi, dia sepenuhnya paham bahwa kondisi fisik seorang atlet bakal merosot dengan kecepatan yang tidak terduga selepas berusia. 30 tahun.

Pasir di bagian atas tabung gelas jam miliknya sudah nyaris habis. Del Piero, bagaimanapun, kala itu tetap merasa bahwa dia masih mampu menentang dan mengakali konsep pelapukan fisik setidaknya untuk setahun-dua ke depan. Memperpanjang masa yang-yangan dengan La Vecchia Signora menjadi 20 atau 21 musim.

Jika pemicu utama perpisahan yang tidak mengenakkan itu adalah uang, Del Piero sempat menegaskan di pengujung tahun 2011 bahwa dia rela dan siap bermain cinta bagi Juventus untuk satu atau dua musim lagi tanpa digaji!

Kerelaan semacam itu merupakan keganjilan yang tidak bisa diterima pikiran Homo Sapiens masa kini yang sudah terlalu akrab dengan logika rugi dan laba khas pasar.

Namun, hei, ini cinta kamerad! Dan cinta memang kerap tidak masuk akal, mengangkangi dikotomi rugi dan laba, memberontak terhadap koridor-koridor banal. Bukankah cinta terkadang cuma bisa berbicara melalui selongsong senapan?

Del Piero mengikrarkan cintanya yang begitu kuat pada La Vecchia Signora, seolah-olah hendak meyakinkan bahwa pintu terakhir yang tersisa hanyalah tinggal penyangkalan terhadap kebijaksanaan dan aturan yang ada.
Del Piero dan Juventus adalah sejumput kisah tentang ironi, perihal kapitalisme dan industri yang merampas kesenangan berikut romansa indah dari sepak bola.

Pada pertengahan Oktober 2011, Andrea Agnelli selaku Presiden Juventus mengumumkan kepada para cartolas pemegang saham klub bahwa Del Piero tidak bakal mendapat tawaran perpanjangan kontrak yang kedaluwarsa pada akhir musim 2011/12.

Beberapa hari setelah keputusan itu muncul, yang tentu saja bikin Del Piero kecewa, Genoa bertamu ke kuil megah Juventus dalam pertandingan lanjutan Serie A Italia musim 2011/12 yang berakhir imbang 2-2. Ironis, Del Piero masuk sebagai pemain pengganti dengan waktu bermain yang tidak sampai satu menit pada pertandingan tersebut!
Catatan rekor yang dipahat Del Piero saat masih menjadi kekasih La Vecchia Signora menunjukkan secara gamblang bahwa tidak ada pemain Juventus pada masanya yang bisa mencetak gol lebih banyak ketimbang dirinya.

Del Piero kerap mencetak gol melalui momen licik yang luhur, kegarangan yang aduhai, atau dengan sepakan bebas magisnya. Dan kesempatan bermain selama kurang dari satu menit setelah pengumuman kabar perpisahan itu rasanya terlalu singkat untuk Del Piero.

Momen tersebut adalah sebentuk penghinaan kepada seniman lapangan hijau yang telah memamerkan keajaiban olah bola paling banyak (705 pertandingan) dan mencetak gol terbanyak (290 buah) untuk Juventus di sepanjang sejarah klub.

Saya paham bahwa Andrea, generasi ketiga dari Dinasti Agnelli yang menguasai Fiat S.p.A. (Fabbrica Italiana Automobili Torino, atau Pabrik Mobil Italia di Turin) dan Juventus, telah menghabiskan banyak uang untuk membangun sebuah era baru sembari mempercayakan tim kepada Antonio Conte yang masih bau kencur di bidang kepelatihan pada waktu itu.

Andrea, yang setahun lebih muda dari Del Piero, tumbuh dan menjalani masa kanaknya dengan menonton Del Piero tampil membela panji kehormatan Juventus.

Sedangkan Conte pernah berjuang membahagiakan La Vecchia Signora selama satu dekade bersama Del Piero. Mereka berdua mempersembahkan banyak gelar, termasuk lima Scudetto Serie A Italia, dan terkadang berbagi kemuliaan sebagai kapten tim.

Del Piero yang diberkati dengan lebih banyak visi menjadi pemain favorit Juventini bukan cuma karena keterampilan ajaibnya semata. Namun karena dia juga mampu melangkah dan mencapai tingkat yang transendental bersama dengan kekasih Juventus lainnya.

Ada Gianluigi Buffon, Superman yang cakap menjaga harga diri Juve selama 17 tahun, legenda hidup yang rela dituduh sebagai pahlawan kemenangan dan biang kerok kekalahan, sang filsuf penenun kesunyian di ujung lapangan, manifesto dari paradoks tentang keberadaan penjaga gawang dalam permainan sepakbola, salah satu pacar “Si Nyonya Tua” yang paling setia dan mesra.

Ada juga Gaetano Scirea, seorang penyabar di jantung pertahanan Juventus kelahiran Komune Cernusco sul Naviglio, Italia, selama 14 tahun. Pun dengan Giampiero Boniperti, seorang pemburu buas yang tidak segan-segan mengganyang lawan selama 15 musim di Turin, serta John Charles, raksasa lemah-lembut asal Wales yang bisa bermain dengan kekuatan setara sebagai penyerang (striker) atau bek tengah (defender).

Andrea pasti mewarisi kegeniusan dari ayahnya, Umberto. Keterikatan Dinasti Agnelli yang begitu kuat dan mendalam untuk menjadikan Juventus sebagai tim sepakbola yang lebih hebat lagi. Andrea berhasil meyakinkan para investor untuk meruntuhkan Stadion Delle Alpi.

Sebuah arena tanpa jiwa, istana yang punya jalur lari untuk memisahkan kedekatan para Juventini dan La Vecchia Signora, untuk kemudian mengubahnya menjadi kuil megah yang begitu sakral dan menguntungkan sehingga dia mengumumkan bahwa kerugian finansial pada musim 2010/2011 adalah masa lalu yang begitu jauh dan nyaris terlupakan.

Stadion dan biaya pengeluaran tim adalah satu hal, sementara melengkapi skuad dengan pesepak bola-pesepak bola andal merupakan hal lain.

Hubungan unik antara Juventus era baru yang menyegarkan dan Juventus lawas adalah kapten sepanjang masa klub, Del Piero. Dialah ikon penghubung antara Stadion Olimpico Torino, Stadion Delle Alpi, dan Stadion Juventus (kini Stadion Allianz) yang megah sekarang ini.

Del Piero ingin tinggal lebih lama untuk menyelesaikan kisah asmaranya bersama La Vecchia Signora dengan cara yang lebih romantis dan lebih elegan, dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya, tetapi pihak manajemen klub dan para cartolas penggila profit tidak mengindahkan keinginan tulusnya.

Musim panas 2012 seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi siapa pun yang mengaku mencintai Juventus. Klub kesayangan mereka berhasil meraih Scudetto pertamanya setelah skandal Calciopoli dengan cara yang paling jahaman, tidak terkalahkan dalam satu musim!

Gelar juara itu menggarisbawahi fakta bahwa Juve telah kembali perkasa, berada di jalur yang semestinya sebagai tim sepakbola hebat. Mimpi buruk dalam tidur panjang yang menyengsarakan itu sudah berlalu, bayangan suram telah berganti harapan indah yang mencerahkan.

Sayangnya, atau bangsatnya, kemurungan menyelinap pelan-pelan di antara sukacita dan euforia. Ini adalah akhir romansa Del Piero dan Juventus, mereka berdua memutuskan untuk berpisah secara baik-baik.

Saya sampai hari ini masih bingung bagaimana caranya menjadikan perpisahan sebagai momen yang baik-baik saja, saya masih tidak percaya ada sepasang kekasih yang saling mencinta satu sama lain bisa berakhir dengan “baik-baik” saja.

Cuma ada sedikit pesepak bola yang mau menghabiskan 15 tahun waktunya bersama satu klub saja dalam industri sepakbola modern. Del Piero terlalu agung untuk diusir dan diperlakukan sebagai seorang pecundang kawakan. 19 tahun loyalitas dan rasa cinta Del Piero sudah seharusnya diapresiasi secara lebih layak, setidaknya biarkan dia pensiun di sebuah tim sepakbola yang telah membesarkan namanya dan begitu dicintainya sepenuh jantung.
Selamat hari lahir, Del Piero!

Saya mengucapkan terima kasih yang punya arti bahwa saya telah menerima segala sesuatunya dengan kasih meski kenangan demi kenangan tentang sihirmu bakal terus-terusan berputar di batok kepala. Untuk jutaan detik yang telah berlalu dan jutaan detik lainnya setelah ini, sekali lagi, terima kasih Del Piero.
Tabik.

Alessandro Del Piero: Kekasih Si Nyonya Tua yang Tersisih | livesoccer.id | 4.5